Choclairs Tanda Cinta dan Kematian (2)

Keesokan harinya aku bertemu Seni disekolah. Raut wajahnya tak ubah seperti ladang yang diacak binatang buas, namun segera di tutupi begitu bertemu ku. Dia langsung menebar senyum khasnya dan menanyakan keberadaan Ihsan. Dia tampak menggenggam sesuatu yang kecil, begitu kecil sehingga muat digenggamannya.
“Hallo Adit! liat Ihsan ga ?

“Hai Seni! Hhmm.. ngga tuh.”

“Oh gitu ya, makasih dit.”

“Eh itu apa sen yang ditangan ? jadi penasaran.”

“Bukan apa-apa dit, cuma sesuatu yang spesial untuk orang yang spesial. Oh iya adit mau nyobain ?

Boleh. sangat mau.”

“Bentar ya (sambil membuka isi tas). Nih buat Adit, Seni cari dulu Ihsan ya. Selamat menikmati.”

Makasih sen. Selamat mencari juga.” Ketika ku buka isinya ternyata sebiji choclairs digenggaman. Choclairs pun aku simpan dan segera menuju kantin karena rasanya perutku sudah mendesak berontak.

Dikantin ternyata aku bertemu Ihsan yang tampak membawa sesuatu yang dikepalkan sedang memesan makanan. Aku pun langsung bergabung dengannya dan segera memesan makanan. Dia terlihat sumringah kali ini dan seperti biasa saat makan kami bercanda bersama dan saling tukar makanan. Pulangnya aku kembali ke kelas dan dia pergi menuju toilet karena sesuatu hal yang mendesak.

Bel istirahat kedua dibunyikan. Aku bergegas pergi ke mesjid untuk sembahyang karena masih ada tugas yang harus kukerjakan setelah sholat. Namun begitu terkejutnya diriku ketika mendengar jeritan perempuan di toilet. Dengan semangat kepahlawanan tinggi aku langsung berlari ke toilet perempuan dan mencari tahu apa yang terjadi. Tapi suasana di toilet perempuan sangat tenang dan terkesan kondusif. Namun suasana kondusif itu berubah ketika beberapa perempuan anggota tim cheersleader terkejut melihat sosok laki-laki di toilet perempuan, padahal mereka sedang asyik berganti baju satu sama lain.

“Apa yang kau lakukan disini ?!”

“Aku sedang mencari asal jeritan itu. Mungkin dari toilet ini ?”

“Kalau aku tahu dari sini aku sudah mencari pertolongan dari tadi! Sekarang pergi!

“Tenang dulu. Iya saya minta maaf ...”

“Aku tidak tenang karena ada kamu. Pergiiiiiii !!!”

Tanpa memperdulikan lekukan tubuh dan parasnya aku langsung pergi ke toilet laki-laki dan begitu sampai betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang pria yang tidak lain sahabatku tewas mengenaskan dengan menenggelamkan mukanya sendiri kedalam bak serta raut wajahnya yang tampak ketakutan. Tidak ada bukti terkait pembunuhan sehingga polisi menganggapnya sebagai peristiwa bunuh diri. Tidak ada bukti kecuali bungkus choclairs yang akhirnya aku simpan. Tidak puas dengan kinerja polisi aku pun segera pergi menuju rumah guru terbaikku di bidang penyelidikan dan detektif, Azis, ketika sepulang sekolah dan langsung menceritakan apa yang terjadi disekolah.

Azis kebetulan sedang tidak bersekolah hari itu dan ketika ku menemuinya dia sedang bermain VOS dan asyik dengan dunia nya sendiri. Hanya dengan lirikan mata dia langsung mengenali yang datang itu aku, dan segera melanjutkan permainan kembali. “Azis! Aku membawa kabar tidak mengenakan tadi disekolah. Temanku ...” “Sssuuttt! Aku sudah tau mengenai kejadiannya. Sejam yang lalu ada yang meneleponku. Aku berharap seseorang datang menceritakan dan membawa bukti untuk nantinya diselidiki dan kau orang yang telah baik hati itu. Setelah aku beres bermain VOS kau boleh cerita.” Setelah itu aku bercerita dari awal saat jum’atan sampai keadaan saat sahabatku tewas. Azis mendengarkan dengan seksama dengan sekali-kali mencicipi kue yang dia suguhkan. Setelah cukup cerita aku pun segera menyerahkan satu-satunya bukti yang tersedia, yakni bungkus choclairs.

“Ini saja buktinya ?” Ujar Azis.

“Ya, hanya itu yang kutemukan di lokasi. Mungkin kamu bisa periksa kadar air di bak yang dipakai Ihsan untuk menenggelamkan dirinya. Pada saat itu sudah ada polisi sehingga aku tidak sempat mengambil sampelnya.”

“Baiklah akan ku maksimalkan bukti ini dan dengan berbekal cerita mu ini aku ada sedikit gambaran. Besok siang datanglah ke rumahku, kita akan jalan-jalan!”

“Jalan-jalan ?”

“Ya. Tunggu saja besok.”

“Aku akan sangat tidak sabar untuk menunggu hari esok.”

(bersambung)

6 komentar: