Keesokan
harinya aku bertemu Seni disekolah. Raut wajahnya tak ubah seperti ladang yang
diacak binatang buas, namun segera di tutupi begitu bertemu ku. Dia langsung
menebar senyum khasnya dan menanyakan keberadaan Ihsan. Dia tampak menggenggam
sesuatu yang kecil, begitu kecil sehingga muat digenggamannya.
“Hallo
Adit! liat Ihsan ga ?”
“Hai
Seni! Hhmm.. ngga tuh.”
“Oh
gitu ya, makasih dit.”
“Eh
itu apa sen yang ditangan ? jadi penasaran.”
“Bukan
apa-apa dit, cuma sesuatu yang spesial untuk orang yang spesial. Oh iya adit
mau nyobain ?”
“Boleh.
sangat mau.”
“Bentar
ya (sambil membuka isi tas). Nih buat Adit, Seni cari dulu Ihsan ya. Selamat
menikmati.”
“Makasih
sen. Selamat mencari juga.” Ketika
ku buka isinya ternyata sebiji choclairs digenggaman. Choclairs pun aku simpan
dan segera menuju kantin karena rasanya perutku sudah mendesak berontak.
Dikantin
ternyata aku bertemu Ihsan yang tampak membawa sesuatu yang dikepalkan sedang
memesan makanan. Aku pun langsung bergabung dengannya dan segera memesan
makanan. Dia terlihat sumringah kali ini dan seperti biasa saat makan kami
bercanda bersama dan saling tukar makanan. Pulangnya aku kembali ke kelas dan
dia pergi menuju toilet karena sesuatu hal yang mendesak.
Bel
istirahat kedua dibunyikan. Aku bergegas pergi ke mesjid untuk sembahyang
karena masih ada tugas yang harus kukerjakan setelah sholat. Namun begitu
terkejutnya diriku ketika mendengar jeritan perempuan di toilet. Dengan
semangat kepahlawanan tinggi aku langsung berlari ke toilet perempuan dan
mencari tahu apa yang terjadi. Tapi suasana di toilet perempuan sangat tenang
dan terkesan kondusif. Namun suasana kondusif itu berubah ketika beberapa
perempuan anggota tim cheersleader terkejut melihat sosok laki-laki di toilet
perempuan, padahal mereka sedang asyik berganti baju satu sama lain.
“Apa
yang kau lakukan disini ?!”
“Aku
sedang mencari asal jeritan itu. Mungkin dari toilet ini ?”
“Kalau
aku tahu dari sini aku sudah mencari pertolongan dari tadi! Sekarang pergi!”
“Tenang
dulu. Iya saya minta maaf ...”
“Aku
tidak tenang karena ada kamu. Pergiiiiiii !!!”
Tanpa
memperdulikan lekukan tubuh dan parasnya aku langsung pergi ke toilet laki-laki
dan begitu sampai betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang pria yang tidak
lain sahabatku tewas mengenaskan dengan menenggelamkan mukanya sendiri kedalam
bak serta raut wajahnya yang tampak ketakutan. Tidak ada bukti terkait
pembunuhan sehingga polisi menganggapnya sebagai peristiwa bunuh diri. Tidak
ada bukti kecuali bungkus choclairs yang akhirnya aku simpan. Tidak puas dengan
kinerja polisi aku pun segera pergi menuju rumah guru terbaikku di bidang
penyelidikan dan detektif, Azis, ketika sepulang sekolah dan langsung
menceritakan apa yang terjadi disekolah.
Azis kebetulan sedang tidak bersekolah hari itu dan ketika ku menemuinya dia sedang bermain VOS dan asyik dengan dunia nya sendiri. Hanya dengan lirikan mata dia langsung mengenali yang datang itu aku, dan segera melanjutkan permainan kembali. “Azis! Aku membawa kabar tidak mengenakan tadi disekolah. Temanku ...” “Sssuuttt! Aku sudah tau mengenai kejadiannya. Sejam yang lalu ada yang meneleponku. Aku berharap seseorang datang menceritakan dan membawa bukti untuk nantinya diselidiki dan kau orang yang telah baik hati itu. Setelah aku beres bermain VOS kau boleh cerita.” Setelah itu aku bercerita dari awal saat jum’atan sampai keadaan saat sahabatku tewas. Azis mendengarkan dengan seksama dengan sekali-kali mencicipi kue yang dia suguhkan. Setelah cukup cerita aku pun segera menyerahkan satu-satunya bukti yang tersedia, yakni bungkus choclairs.
“Ini
saja buktinya ?” Ujar Azis.
“Ya,
hanya itu yang kutemukan di lokasi. Mungkin kamu bisa periksa kadar air di bak
yang dipakai Ihsan untuk menenggelamkan dirinya. Pada saat itu sudah ada polisi
sehingga aku tidak sempat mengambil sampelnya.”
“Baiklah
akan ku maksimalkan bukti ini dan dengan berbekal cerita mu ini aku ada sedikit
gambaran. Besok siang datanglah ke rumahku, kita akan jalan-jalan!”
“Jalan-jalan
?”
“Ya.
Tunggu saja besok.”
“Aku
akan sangat tidak sabar untuk menunggu hari esok.”
(bersambung)


jujuuuur, jadi penasr dit (y)
BalasHapushaha terima kasih telah penasaran :D
BalasHapusGod joob broh. ditunggu cerpen selanjutnya :D
BalasHapusWah,, :D
BalasHapuskunjungan persahabatan dit
kunjungan balik nih, brangkaaaat
Hapustes
BalasHapus