Choclairs Tanda Cinta dan Kematian (3)

Aku benar-benar tidur tidak nyenyak malam itu sampai kepastian menyongsong hari esok terpenuhi. Seperti biasa aku pergi ke rumah Azis dengan setelan rapi ala british siang itu. Betapa kesalnya ketika kulihat dia masih berbalut piyama lengkap selimutnya, bahkan dia setengah lupa ketika ku tanya soal janjinya kemarin. Dengan muka polos dia berjalan ke kamar mandi dan bergegas mandi. Sambil dia mandi aku meluangkan kesempatan membaca beberapa buku misteri dan menyempatkan diri menyeduh segelas kopi.


 “Dit, rapi sekali kau berpakaian.” Katanya sambil mandi. Sekarang kami melakukan pembicaraan 2 alam, alam kamar dan alam kamar mandi.

“Iya, selalu tampil rapi dimana saja.”

“Sepertinya kau tepat memakai baju seperti itu.”

Maksudmu ?

“Kau lihat saja nanti, sekarang biarkan aku bersih dengan sabun ini.”

Silahkan.”

Setelah kurang lebih 15 menit kulihat dia keluar kamar mandi. Sepertinya dia serius dengan komitmen pembersihan dirinya. Belum sempat aku menghabiskan makanan dia sudah tampil rapi seperti yang kukenakan saat ini, setelan ala british. Aku tidak pernah melihat dia seserius ini dalam berpakaian. Biasanya berbaju santai pun dia masih bias serius, namun sekarang urusannya lain, ini soal pembunuhan! Ini akan jadi perjalanan menegangkan, pikirku.

“Dengar dit, terlebih dulu aku mau minta maaf sama kamu masalah kemarin. Ya, aku tidak jadi membawamu jalan-jalan karena ini masalah amat serius bagiku. Ini harus didiskusikan agar jalannya lancar dan tidak mengecewakan satu pihak pun.”

“Aku bisa memahami itu zis, tapi aku sama sekali tidak paham dengan jalan pikiranmu.”

“Baik, aku mengerti dit. Aku sudah menghubungi Seni dan Zahra agar mereka berdua datang kemari dan meminimalisir terjadinya permusuhan, karena ini dirumahku kataku. Tujuanku mengumpulkan mereka adalah aku ingin adanya transparansi diantara mereka karena jika ini dilakukan ditempat lain aku khawatir perang nuklir meletus.”

“Lalu soal bukti yang kutemukan ? Sampel airnya ?”

“Sudah kuperiksa semua. Bahkan aku meminta data tim forensik mengenai air itu. Aku menemukan kadar garam inggris yang tinggi di bungkus choclairs itu, lalu kadar tar dan nikotin di airnya. Dan cerobohnya kau melewatkan satu bukti yang menurutku bisa jadi kartu as buat pemecahan masalah ini.”

“Aku bisa saja memahami ini Azis jika kau tidak bertele-tele dalam membuat hipotesis.”

“Tenang dit, jika ku tak salah menghitung seharusnya mereka berdua harus sudah berada disini sekarang, jadi sabarlah dulu sampai aku memberikan penjelasan lebih lengkap mengenai ini. Seharusnya kau bisa memahami arti semua ini jika kau mau menapaki jejakku sebagai seorang detektif.”

Sekitar 5 menit kemudian akhirnya mereka berdua pun muncul dihadapan dengan muka yang tidak jauh berbeda keadaannya. Seni dengan mukanya yang kusut serta kekesalan yang sangat amat memuncak. Sedangkan kompatriotnya tidak lebih baik. Zahra dengan muka bersalah dan tatapan kosong terlihat diwajahnya menjadikan dia tidak lebih baik keadaannya daripada Seni. Azis dan aku menyambut alakadarnya. Setelah itu kita beranjak ke ruang tamu dan memulai ketegangan. Azis memulai dengan gaya khasnya menyajikan suatu ekspektasi tak terkira, merasakan penghakiman pengadilan hijau disinilah tempatnya.

(bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar