Aku
benar-benar tidur tidak nyenyak malam itu sampai kepastian menyongsong hari
esok terpenuhi. Seperti biasa aku pergi ke rumah Azis dengan setelan rapi ala
british siang itu. Betapa kesalnya ketika kulihat dia masih berbalut piyama lengkap
selimutnya, bahkan dia setengah lupa ketika ku tanya soal janjinya kemarin.
Dengan muka polos dia berjalan ke kamar mandi dan bergegas mandi. Sambil dia
mandi aku meluangkan kesempatan membaca beberapa buku misteri dan menyempatkan
diri menyeduh segelas kopi.
“Dit,
rapi sekali kau berpakaian.” Katanya sambil mandi. Sekarang kami melakukan
pembicaraan 2 alam, alam kamar dan alam kamar mandi.
“Iya,
selalu tampil rapi dimana saja.”
“Sepertinya
kau tepat memakai baju seperti itu.”
“Maksudmu
?”
“Kau
lihat saja nanti, sekarang biarkan aku bersih dengan sabun ini.”
“Silahkan.”
Setelah
kurang lebih 15 menit kulihat dia keluar kamar mandi. Sepertinya dia serius
dengan komitmen pembersihan dirinya. Belum sempat aku menghabiskan makanan dia
sudah tampil rapi seperti yang kukenakan saat ini, setelan ala british. Aku
tidak pernah melihat dia seserius ini dalam berpakaian. Biasanya berbaju santai
pun dia masih bias serius, namun sekarang urusannya lain, ini soal pembunuhan!
Ini akan jadi perjalanan menegangkan, pikirku.
“Dengar
dit, terlebih dulu aku mau minta maaf sama kamu masalah kemarin. Ya, aku tidak
jadi membawamu jalan-jalan karena ini masalah amat serius bagiku. Ini harus
didiskusikan agar jalannya lancar dan tidak mengecewakan satu pihak pun.”
“Aku
bisa memahami itu zis, tapi aku sama sekali tidak paham dengan jalan
pikiranmu.”
“Baik,
aku mengerti dit. Aku sudah menghubungi Seni dan Zahra agar mereka berdua
datang kemari dan meminimalisir terjadinya permusuhan, karena ini dirumahku
kataku. Tujuanku mengumpulkan mereka adalah aku ingin adanya transparansi
diantara mereka karena jika ini dilakukan ditempat lain aku khawatir perang
nuklir meletus.”
“Lalu
soal bukti yang kutemukan ? Sampel airnya ?”
“Sudah
kuperiksa semua. Bahkan aku meminta data tim forensik mengenai air itu. Aku
menemukan kadar garam inggris yang tinggi di bungkus choclairs itu, lalu kadar
tar dan nikotin di airnya. Dan cerobohnya kau melewatkan satu bukti yang
menurutku bisa jadi kartu as buat pemecahan masalah ini.”
“Aku
bisa saja memahami ini Azis jika kau tidak bertele-tele dalam membuat
hipotesis.”
“Tenang
dit, jika ku tak salah menghitung seharusnya mereka berdua harus sudah berada
disini sekarang, jadi sabarlah dulu sampai aku memberikan penjelasan lebih
lengkap mengenai ini. Seharusnya kau bisa memahami arti semua ini jika kau mau
menapaki jejakku sebagai seorang detektif.”
Sekitar
5 menit kemudian akhirnya mereka berdua pun muncul dihadapan dengan muka yang
tidak jauh berbeda keadaannya. Seni dengan mukanya yang kusut serta kekesalan
yang sangat amat memuncak. Sedangkan kompatriotnya tidak lebih baik. Zahra
dengan muka bersalah dan tatapan kosong terlihat diwajahnya menjadikan dia
tidak lebih baik keadaannya daripada Seni. Azis dan aku menyambut alakadarnya.
Setelah itu kita beranjak ke ruang tamu dan memulai ketegangan. Azis memulai
dengan gaya khasnya menyajikan suatu ekspektasi tak terkira, merasakan
penghakiman pengadilan hijau disinilah tempatnya.
(bersambung)


0 komentar:
Posting Komentar