Tertambat

Pernah ada beberapa yang hilir mudik membayangi sisi kehidupan. Memberikan suka duka tak berbatas bagi si pelakon. Ada yang sekedar bertamu, menjamu, mengaku, dan tertambat. Segalanya begitu cepat, flash! Tak tau lagi mana yang ku ingat dan yang dikenang.

Soal tertambat menjadi masalah. Pernah suatu komitmen menganjurkanku untuk tidak tertambat, akhirnya tergusur juga. Namun keinginan memiliki yang kuat, akhirnya tergerus juga. 

Ini soal hati. Bagaimana hati menjadi pembeda satu insan dengan makhluk manapun. Sebenarnya aku tak cukup pandai untuk bermain-main dengan yang satu ini. Seringkali aku mempermasalahkan hati yang selalu bercampur logika dalam pengambilan keputusan. Namun ku rasa cukuplah bagiku untuk membagi rasa ini dengan interpretasi yang aku buat. Later, aku menyadari logika dan hati janganlah terpisah.

Lebih jauh, hati ini akan berbicara asmara, human interest, perasaan, peduli, tenggang rasa, toleransi, hak. Tak bisa dipungkiri, hati yang sulit ku pahami adalah asmara. Berkelana mencari kecocokan. Bertamu lalu dijamu pada tiap serambi yang dikunjungi.

Pada akhirnya nanti, akan ku sadari, semua akan bermuara pada kehampaan. Tak akan aku menambatkan hati pada semua serambi. Saat ini, pencarianku pada seseorang yang aku-pun-tidak-tahu-apakah-dia-sedang-membuka-hatinya, pada seseorang yang lost contact bertahun-tahun, pada seseorang yang misterius, pada seseorang yang malu-tapi-mau, pada seseorang yang benar-benar membuka, tidak banyak yang berakhir bahagia dan sukses. Bisa saja ku maknai ini sebagai sebuah perjalanan. Ya, kemana lagi aku berlabuh, selalu ada yang menuntunku.

Ketahuilah, bagiku, sangat sulit untuk menumpahkan hati – yang selanjutnya disebut perasaaan – dalam sebuah tulisan.

0 komentar:

Posting Komentar