Choclairs Tanda Cinta dan Kematian (Habis)

“Baik tuan dan nyonya mari kita mulai acara. Tolong tenang dan tanpa keributan jika tidak mau kasus ini nantinya diseret ke ranah hukum. Sengaja saya kumpulkan disini karena diskusi kita kali ini bersifat kekeluargaan. Sebenarnya bukan diskusi yang akan saya tampilkan disini, namun lebih kepada presentasi dari saya atas apa yang saya temukan sehari ke belakang.”

“Saya mulai dari dugaanku terhadap sebungkus choclairs yang Seni berikan kepada Ihsan. Dari awal aku yakin choclairs ini lah penyebab kematian Ihsan. Itu gampang saja kalo ditilik secara kasat mata. Tapi kemudian aku menyadari mengapa Seni bisa berbuat seperti itu ? padahal akhir-akhir ini justru Zahra lah yang seharusnya menjadi tersangka jika takdir Ihsan sudah digariskan seperti ini. Lalu aku menyelidiki apa yang ada dibalik choclairs tersebut. Selanjutnya saya serahkan kepada saudari Zahra karena menurut ku dia lebih berhak untuk menjelaskan hubungan tar, nikotin, garam inggris dan lainnya. Seni, ada pembelaan darimu ?”

“Tentu saja zis. Disini saya hanya korban! Awalnya ku pikir semuanya akan berjalan lancar dan bahagia sebelum akhirnya semua berakhir bencana. Wanita ini, wanita ini penyebab semuanya! Kau tanyakan saja pada dia, aku tak sanggup !”

Seni berbicara sambil menangis. Air matanya bercucur terlinang di pipinya. Muka kusutnya berubah protagonis. Suasana makin menegang manakala Zahra angkat bicara. Bukannya apa-apa, tapi kurasa ini puncak dari segalanya. Sebuah ‘pengakuan terlarang’ akan terucap dari mulutnya sebentar lagi. Tidak perlu menunggu lama supaya dia lekas angkat bicara.

“Baik, karena tak mungkin kasus ini untuk disembunyikan dari seseorang yang menjadi primadona di bidangnya. Mungkin aku hanya meluruskan atau menjelaskan apa yang tidak tersingkap darinya. Kejadian bermula saat aku mengetahui Ihsan memiliki yang lain dari orang lain dan lucunya setelah tidak tahu bahwa aku mengetahui dia punya kekasih lain dia malah tenang saja dan seakan-akan kejadian seperti ini tidak pernah terjadi dalam hidupnya, padahal menurutku ini lebih cukup dari suatu permasalahan yang kompleks.”

“Lalu aku memikirkan suatu cara untuk membuat dia kapok akan sikapnya. Namun mengapa akhirnya aku terjebak dalam lingkaran gelap dan memilih jalan itu untuk mengakhiri hidupnya. Sengaja aku titipkan kepada Seni supaya tidak ada kecurigaan sedikitpun dari Ihsan.”

“Oh ya aku tahu kau menginginkan apa yang ada di bungkus choclairs itu. Aku masukan zat tar dan nikotin dalam jumlah banyak supaya dia terjerat dalam waktu sesingkat-sesingkatnya. Lalu aku memikirkan akan keterlibatan polisi, oleh karena itu aku masukan garam inggris supaya kandungan tar dan nikotin dalam choclairs itu tidak terdeteksi oleh tim forensik, dan mengetahui efek yang ditimbulkan garam inggris bagi sistem ekskresi adalah berita bagus bagiku, setidaknya dia bisa berdiam berlama-lama di toilet dan dengan mudah menenggelamkan diri nya karena merasa panas dan sesak akan keadaannya yang seperti terjerat, itulah setidaknya efek tar dan nikotin.”

“Lalu setelah kau lakukan hal itu dan membuat setidaknya hati ratusan orang sakit apa pembelaanmu ?” tiba-tiba dominasi suara Zahra dipecah oleh satu hentakan Azis.

“A…ku min…minta maaf..” Suaranya berat dilarut kesedihan yang mendalam.

Maaf ?! maaf saja yang keluar dari mulutmu ?! maaf ngga bisa balikin Ihsan! Pembunuh!” Seni berteriak sambil bergegas meninggalkan ruangan penghakiman ala Azis.

Sejak saat itu berita tentang kematian Ihsan tidak diusut lagi secara mendalam. Polisi dengan anggapan semula yaitu peristiwa bunuh diri. Seni kembali menjadi seni yang dulu lagi, yang senantiasa ceria tanpa mengungkit-ngungkit masalah Ihsan lagi. Zahra, aku tidak tahu pasti nasibnya kini. Namun yang kudengar dia pindah keluar kota karena kedua orangtuanya pindah tugas, atau hanya akal-akalan dia menghindar dari kenyataan yang pelik ini.

Pada suatu tempat ketika aku dan azis bercakap-cakap dibalai depan rumahku, dia mengungkit masalah Ihsan.

“Kau tahu dit betapa superior nya kita mengungkap kasus dengan hanya menyewakan tempat.”

“Wahh bisa aja kamu, tapi kamu terlihat pendiam dikasus itu, padahal biasanya kau paling aktif bercerita, apalagi sudah menyangkut keadilan dan hak asasi orang lain.”

“Kau tahu seseorang itu tidak harus pintar dalam mengusut suatu kasus, kadang diperlukan kecerdasan ekstra dalam hal ini.”

“Seperti biasa zis memerlukan pemikiran lebih untuk mengertikan setiap pemikiranmu itu, sama sekali buram dengan kata-katamu itu.”

“Aku menyuruh Zahra untuk menceritakan semuanya karena aku tidak tahu bagaimana hal ini 
dapat terjadi. Aku sama sekali tidak mengerti tentang kimia. Kau tahu sendiri nilai kimiaku seperti apa.”

“Benarkah itu Azis ? seorang Azis …. Ohh aku baru menyadarinya sekarang, sungguh!”

0 komentar:

Posting Komentar