Asyiknya Mengabdi di Desa Sikapat



“Mahasiswa! Mahasiswa!” teriak salah satu anak. tangan mungilnya berusaha menggapai kantong berisi konsumsi sambil setengah berlari mengejar sepeda motor. Intip kecil mereka menengok isi dalam kantong dengan senyum terkembang. Begitulah sambutan hangat yang di dapat kawan-kawan dari Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) saat berkunjung ke SD Kecil Watujaran, Desa Sikapat, Kabupaten Banyumas, dalam rangkaian acara Bina Desa Sikapat.


Disebut rangkaian, karena acara yang di gagas BEM Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian (Kema Faperta) Unsoed ini tidak hanya merambah pendidikan di desa, namun juga memperhatikan sektor pertanian dan pemberdayaan ibu rumah tangga. “Target kita harus menyentuh seluruh masyarakat Desa Sikapat, utamanya petani, anak SD, hingga ibu-ibu PKK,” ujar Vikri Ichwan Priatna selaku Ketua Panitia Bina Desa Sikapat. Ini menjadi yang kedua kalinya bagi BEM Kema Faperta setelah tahun sebelumnya menggelar acara sama ditempat yang sama.

Desa Sikapat adalah salah satu Desa yang berada di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, 30 menit perjalanan dari pusat kota Purwokerto. Terdapat di dataran tinggi, akses jalan menuju desa lancar karena dekat dengan objek wisata Curug Ceheng dan Baturraden. Namun begitu, kesenjangan sosial terlihat kentara kala Baturraden yang gemerlap di malam hari sedangkan Desa Sikapat masih berkutat di masalah irigasi.

Acara yang berlangsung mulai 9 November 2013 ini, dibuka dengan prolog singkat mengenai potensi pengembangan pangan dari Penyuluh Pertanian Banyumas lalu potensi Desa Sikapat yang dibawakan mahasiswa dari Perencanaan Sumberdaya Lahan. Setiap sabtu dan minggu, acara rutin digelar di balai desa maupun lahan pertanian setempat. Setiap sabtu pula program ekstrakulikuler SD di Sikapat diisi dengan berbagai kegiatan sesuai kebutuhan anak-anak SD tersebut, diantaranya Sekolah lapang, tari tradisional, pelatihan berbahasa inggris, hingga pembuatan majalah dinding sekolah.

Sementara di sektor pertanian, panitia berupaya membuat program yang terintegrasi dalam kurun kurang dari 2 bulan. Dalam medio November-Desember, setiap minggu rutin di adakan penyuluhan serta diselingi praktik lapangan. Setelah memperkenalkan potensi Desa Sikapat di minggu pertama, minggu kedua diisi dengan sosialisasi benih padi gogo aromatik yang cocok untuk diterapkan di Sikapat, berdasarkan potensinya. Lalu minggu seterusnya dengan mengenalkan mesin perontok jagung, teknik pengolahan pangan fungsional, dan pengemasan serta teknik pemasaran barang terkait value added-nya.

Selepas penyuluhan dilakukan, nantinya mahasiswa akan melakukan monitoring sebagai bentuk evaluasi atas penyuluhan yang dilakukan. Seperti yang dilakukan mahasiswa dari Teknik Pertanian. Setelah mengenalkan mesin perontok jagung sekaligus hibah mesin dilaksanakan, akan ada monitoring setiap 3 bulan untuk mengecek kondisi mesin dan pemakaiannya. Pun demikian dengan mahasiswa dari Agroteknologi yang akan menilik perkembangan padi gogo aromatik per bulannya.

Setelah 7 minggu berjalan, program Bina Desa Sikapat di akhiri pada 22 Desember 2013. Acara penutupan menghadirkan pengajian dan do’a bersama untuk kelangsungan program ini. Memang banyak dari warga Sikapat yang berharap program ini tetap dilaksanakan. Sejalan dengan harapan warga, banyak pula mahasiswa yang ingin ambil bagian dalam program Bina Desa tersebut. Selain mengamalkan tri dharma perguruan tinggi nomor 3, yakni pengabdian masyarakat, juga menjadi kesan tersendiri dalam membantu membangun kemandirian desa. Jika tidak ada halangan, tahun-tahun mendatang program Bina Desa di Desa Sikapat ini akan tetap dilaksanakan.

Jadi, mari mengabdi!

0 komentar:

Posting Komentar