Masa SMA adalah saat tergila-gilanya pada dunia detektif.
Sejak SD aku sudah dicekoki
dengan serial Detektif Conan. Aku suka semua hal yang berbau Conan, termasuk koleksi manga yang sekarang
entah kemana rimbanya. Mulai
berandai-andai akan halnya menjadi detektif yang hebat dan memecahkan kasus
yang rumit sekalipun. Cita-cita sedari dulu, yakni pilot, menguap terbawa alir
tayangan televisi. Sempat terpikir juga, dulu, menjadi Kabotaku atau Power
Ranger yang dengan gagah berani menumpas kejahatan dan monster jahat. Juga terpikir
menjadi Ultraman yang bisa membesar untuk mengalahkan raksasa. Baru ku sadari
kemudian, tayangan televisi sangat mempengaruhi pola pikir anak di masa
perkembangan otaknya. Apa jadinya anak jaman sekarang dengan tontonan seperti
yang diamati hari ini ?
Oke, enough. It’s already out of topic.
Singkatnya, aku menggemari dan mengagumi Conan sampai hari ini.
![]() | |
| Detective Conan Movie 6 The Phantom of the Baker Street |
Konflik dimulai. Tokoh antagonis merusak system game menjadi lebih rumit
dari yang dibayangkan. Game dibuat se-real
mungkin. Artinya, jika anak tersebut mati di permainan maka mati juga di dunia
nyata. Namun kematian dapat terhindar jika ada yang berhasil menyelesaikan misi
dalam game tersebut.
Game dimulai. Satu per satu anak berguguran. Bahkan Ran gugur demi
menyelamatkan nyawa Conan (this is the old romance in every movie). Singkat cerita,
Conan berhasil menyelesaikan misi tersebut dan menyelamatkan semua anak,
termasuk Ran. Semua anak senang. Namun bukan itu yang menarik perhatianku akan film
tersebut.
Film tersebut menjadi awal perkenalanku dengan Sherlock Holmes, tokoh
detektif fiksi buatan Sir Arthur Conan Doyle. Mengenal Sherlock penting karena
Conan pun terinspirasi oleh sosok ‘beliau’. Lama berselancar di dunia maya,
akhirnya aku mendapat koleksi e-book mengenai petualangan Sherlock Holmes
selengkap mungkin yang aku cari.
Mulai membaca, walau tak semuanya rampung dilahap. Ada beberapa part yang belum sempat dibaca. Meski begitu,
kecintaanku terhadap sosok yang satu ini bertambah. Aku punya sosok baru dalam
list idola.
Kecintaan terhadap si Sherlock ini sampai pada satu titik persahabatan.
Naufal dan Rifki adalah sahabatku yang terbentuk dari menyoal penyelidikan. Mulai
bermain detektif, sampai membuat karya tulis tentang pencarian terhadap Rd. M.
Moesa, tokoh Garut yang masyhur pada jamannya. Oh, sungguh romantisme masa lalu
yang sulit terulang kembali.
Tak berhenti disitu, aku mulai berambisi menyaingi Sir Doyle dalam pembuatan
tokoh detektif. Adit masa SMA kurang menghendaki bacaan yang berbau perasaan, teenlit, atau bacaan yang ményé-ményé. Saat
itu aku memimpikan bacaan yang butuh dibaca berulang untuk memahaminya, bacaan
yang mengajak kita berpikir. Indonesia jangan terbuai dengan bacaan yang membuat
lemah dengan bermain perasaan, yang akhirnya kita malah sibuk dengan isu
toleransi daripada membahas kemajuan teknologi.
Ambisi tinggalah ambisi. Keinginanku membuat sekedar buku kumpulan
cerita detektif terhempas seabreg kesibukan. Aku ditampar kenyataan bahwa saat
itu aku sedang menjalani gemblengan program. Tapi aku sempat membuat cerita
yang menunjang tugas bahasa Indonesia kala itu. Cerita yang original nanti
mungkin aku share di blog ini. Cerita yang berjudul “Choclairs Tanda Cinta dan
Kematian” ini aku share sengaja original tanpa sentuh tulisan Adit masa kuliah. Mulai besok dan secara berkala setiap dua hari aku share dengan format part. Bisa jadi artikel ini dibuat sebagai pengantar cerita tersebut, aku tidak
memungkiri hal ini.
Inilah detective tale.
.jpg)



0 komentar:
Posting Komentar