Sebenarnya sederhana. Tulisan ini dibuat berawal dari kekesalanku
dengan sikapnya yang tetap memakai celana trainingku yang rawan sobek sampai akan
sobek. Dengan postur seperti itu, jelas akan sobek. Pasti sudah diperhitungkan
olehnya.
Tapi kenapa aku ribet-ribet nulis di blog, tidak dibicarakan
langsung ?
***
Jauh sebelum tulisan ini dibuat.
Suatu hari dimana aku masih bertempat di Dayeuhmanggung,
mama memberi pesan menjelang keberangkatanku yang lama dan jauh. Begini kira-kira
isi pesannya :
“De, jaga diri baik-baik disana, apalagi nanti disana bakal
tinggal berdua dengan kakak kamu. Kamu tahu sendiri kan kakak kamu seperti apa,
makanya mama harapkan jangan sampai guntreng
(aku artikan ini sebagai clash)
malu sama temen kostmu yang lain jika dua-duanya sama-sama ngotot. Adat mah hese dirobah”
Tak cukup sampai di mama, bapa & teteh pun ikut mengantarkan wejangan yang sama. Ada apa sebenarnya dengan hal itu sampai harus ditekankan beberapa orang ? Ada apa dengan kakakku ? Apa wejangan yang sama dia berikan kepada kakak mengenai aku ?
Bingung, jelas. Biasanya orang yang diberi amanat seperti itu adalah kakak, karena asumsi bahwa kakak lebih bisa mengontrol diri terhadap adiknya ketika terjadi clash. Aku coba review bagaimana adat kakak yang dimaksudkan mama. Dan mungkin saja itu bisa terjadi.
***
Hari ini.
Aku telah menyadari sebelumnya hal-hal seperti ini akan terjadi lagi jika merujuk pada adat. Aku memang orang yang tidak higienis. Aku jarang membersihkan kamar tidurku di rumah, apalagi inisiatif pada pekarangan rumah. Tapi tingkat ke-sensitif-anku akan itu meningkat tatkala hidup sendiri, mandiri. Aku lebih menyadari bahwa aku butuh tempat tinggal yang nyaman dan itu tak akan tercapai jika tidak dilakukan sendiri.
Di semester awal aku sering membereskan kamar. Semakin kesini semakin jarang aku beres-beres.
Disamping padatnya jadwal di kampus, aku pun sering merasa capek sendiri karena aku merasa bahwa aku ‘melakukan sendiri’ pekerjaan itu (beres-beres kamar –red). Dengan kakakku ikut menambah pekerjaanku di kamar, itu bisa diartikan menambah pekerjaanku juga. Bagaimana tidak, aku belum pernah melihat dia membersihkan kamar kecuali pernah aku suruh (itupun kerja bareng-bareng). Indikatornya, satu, ketika lagi bareng di kamar lalu tak terlihat gerak-gerik dan usahanya membereskan kamar. Kedua, aku yang sedang berada diluar kamar, ketika masuk kamar tidak ada progress menuju positif, malah tambah kotor/pengap/acak-acakan.
Hal ini tidak terjadi jika ada kekompakan dan kemauan dari keduanya untuk komitmen menjaga kebersihan kamar. Kenapa hal seperti ini tidak di komunikasikan. Susah. Ketika disuruh susah, mungkin karena dirinya merasa senior yang disuruh junior. Ketika aku ngotot, dia balik ngotot untuk mempertahankan argumennya. Maklum mungkin ilmu debatnya tinggi (debater nasional men). Tapi sebenarnya hal ini tidak usah didebatkan jika keduanya beriringan membereskan kamar. Mungkin aku menginterpretasi istilah adat mama seperti itu. Berdasarkan pengalaman yang aku alami.
Sebenarnya kekesalan aku berdampak pada sikap menyayangkan dirinya yang tak kunjung wisuda. Di pikiranku, ketika lulus maka hidup pun sendiri bisa berekspresi bebas di kosan. Ketika menanyakan perihal ‘wisuda kapan ?’ pun dia jawab sekenanya. Ketika ditanya lebih jauh, kembali, adat berperan. Aku bingung harus menyikapi seperti apa.
Aku harap tulisan ini dibaca dengan akal sehat, bukan adat. Ketika toh akhirnya tulisan ini
dibalas, aku ingin dibalas dengan perbuatan agar menunjukkan tulisan ini salah.
Aku harap list yang tadi aku buat bisa dibuktikan salah beberapa hari ke depan.
Aku harap tulisan ini hanya sebagai refleksi atas adat kakak aku yang mengharuskanku diam. Seperti pepatah di Agrica,
“jika mulutmu dibungkam, tajamkan penamu!”. Semoga mama berkenan pesannya
tersebar luas dan sampai pada kakak aku, karena yang aku harapkan wejangan
serupa sampai di kakakku. Maaf, bukan untuk mengumbar aib, ini soal celana
training yang hendak sobek.


0 komentar:
Posting Komentar