Choclairs Tanda Cinta dan Kematian (1)

Kontan saja aku terkejut melihat tingkah Ihsan hari itu yang nampaknya tidak biasa. Seminggu yang lalu aku melihatnya sangat gembira dengan handphone nya itu. Namun hari ini dia nampak gelisah dan sedikit takut terpancar dari sinar rona wajahnya. Ku coba menebak-nebak apa yang terjadi padanya. Mungkin seminggu yang lalu dia mendapat pulsa nyasar dan hari ini seseorang menagihnya. Atau mungkin dia menemukan handphone dan hari ini dia diincar polisi dengan tuduhan pencurian. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, maka dari itu aku mulai menyelidikinya. Pertama, mulai dari merambah handphone nya. Jum’at itu saat kami jum’atan aku meminjam handphone nya.

“San ada game apa yang rame ? bosen nih.”

“Ada nih, tapi cuma worm aja yang dulu, ngga apa-apa kan ?”

“Ya ngga apa-apalah yang penting ada, daripada bosen.”

Dia tetap saja dengan mukanya yang ditekuk itu ketika dengan sigap aku mulai merambah wilayah privasinya. Tidak ada kecurigaan darinya karena mungkin percaya pada sahabatnya. Penyelidikan dimulai dari membuka kotak masuk. Sengaja aku membuka dari bawah karena ingin tahu perkembangannya dari seminggu ke belakang. Begitu terkejutnya diriku ketika mengetahui bahwa Ihsan sudah menjalin hubungan serius alias pacaran dengan salah satu teman terbaikku, Seni. Ku telusuri lebih lanjut sebelum seseorang dengan paksa mengambil kembali handphone nya. Orang itu tidak lain Ihsan, pemiliknya. Rupanya dia sudah curiga karena melihat raut wajahku yang begitu serius.

“Buka apa aja kamu tadi ?!” tanya nya dengan muka memerah. Belum sempat aku berbicara dia sudah menimpali seperti menceracau. “Oke, masalah ini hanya tuhan, kau, dan aku yang tau. Jangan menyia-nyiakan kepercayaanku. Kau sudah tau aku berpacaran dengan Seni, dan sebelumnya telah kau ketahui aku sudah menjalin hubungan dengan Zahra. Dan sekarang ini yang terjadi sangat kompleks. Jangan kecewakan aku dit!”

“Lalu kenapa dengan muka mu itu ?” “Pertanyaan bagus dit, tapi tidak cukup bagus untuk diucapkan seorang detektif ulung seperti kau. Aku dengar kamu beserta temanmu, Azis, sering memecahkan berbagai kasus dikelas. Jadi, apalah artinya kasus ini dimatamu jika tidak bisa memecahkan yang seperti ini.”

Aku hanya diam dan mengangguk ketika dia berbicara seperti itu, sampai-sampai ceramahnya itu beradu dengan khutbah. Aku tak bisa menyangkal karena aku tau perasaan yang sedang menghinggapi nya, serta mengetahui sifatnya luar dalam dan akibat yang timbul jika aku ikut lebih lanjut dalam pada masalahnya.

(bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar