Kontan
saja aku terkejut melihat tingkah Ihsan hari itu yang nampaknya tidak biasa.
Seminggu yang lalu aku melihatnya sangat gembira dengan handphone nya itu.
Namun hari ini dia nampak gelisah dan sedikit takut terpancar dari sinar rona
wajahnya. Ku coba menebak-nebak apa yang terjadi padanya. Mungkin seminggu yang
lalu dia mendapat pulsa nyasar dan hari ini seseorang menagihnya. Atau mungkin
dia menemukan handphone dan hari ini dia diincar polisi dengan tuduhan
pencurian. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, maka dari itu aku mulai
menyelidikinya. Pertama, mulai dari merambah handphone nya. Jum’at itu saat
kami jum’atan aku meminjam handphone nya.
“San ada game apa yang rame ? bosen nih.”
“Ada
nih, tapi cuma worm aja yang dulu, ngga apa-apa kan ?”
“Ya
ngga apa-apalah yang penting ada, daripada bosen.”
Dia
tetap saja dengan mukanya yang ditekuk itu ketika dengan sigap aku mulai
merambah wilayah privasinya. Tidak ada kecurigaan darinya karena mungkin
percaya pada sahabatnya. Penyelidikan dimulai dari membuka kotak masuk. Sengaja
aku membuka dari bawah karena ingin tahu perkembangannya dari seminggu ke
belakang. Begitu terkejutnya diriku ketika mengetahui bahwa Ihsan sudah
menjalin hubungan serius alias pacaran dengan salah satu teman terbaikku, Seni.
Ku telusuri lebih lanjut sebelum seseorang dengan paksa mengambil kembali
handphone nya. Orang itu tidak lain Ihsan, pemiliknya. Rupanya dia sudah curiga
karena melihat raut wajahku yang begitu serius.
“Buka
apa aja kamu tadi ?!” tanya nya dengan muka memerah. Belum sempat aku berbicara
dia sudah menimpali seperti menceracau. “Oke, masalah ini hanya tuhan, kau, dan
aku yang tau. Jangan menyia-nyiakan kepercayaanku. Kau sudah tau aku berpacaran
dengan Seni, dan sebelumnya telah kau ketahui aku sudah menjalin hubungan
dengan Zahra. Dan sekarang ini yang terjadi sangat kompleks. Jangan kecewakan
aku dit!”
“Lalu
kenapa dengan muka mu itu ?” “Pertanyaan bagus dit, tapi tidak cukup bagus
untuk diucapkan seorang detektif ulung seperti kau. Aku dengar kamu beserta
temanmu, Azis, sering memecahkan berbagai kasus dikelas. Jadi, apalah artinya
kasus ini dimatamu jika tidak bisa memecahkan yang seperti ini.”
Aku
hanya diam dan mengangguk ketika dia berbicara seperti itu, sampai-sampai
ceramahnya itu beradu dengan khutbah. Aku tak bisa menyangkal karena aku tau
perasaan yang sedang menghinggapi nya, serta mengetahui sifatnya luar dalam dan
akibat yang timbul jika aku ikut lebih lanjut dalam pada masalahnya.
(bersambung)
(bersambung)


0 komentar:
Posting Komentar