Pemilih

Ketika jiwa berhenti berharap, ketika hati ragu memilih
Perfeksionis, tidak. Aku dengan segala obsesiku adalah suatu hal besar. Tengok isi pikiranku. Acak-acakan, ambural, kusut, penuh memori, belum ter'fragmented' (istilah komputer), penuh hal yang tak berguna, namun sulit memilah yang baik untuk disortir. Bahkan ketika menulis ini, aku bingung untuk mengisi paragraf selanjutnya.

Meminjam tagline Romdoni, seorang manusia yang bebas, yaitu 'Bingung'. Ya sederhana saja, bingung. Seringkali ini menjadi lelucon di kalangan teman-teman, mengenai bingung. Namun tak kah kalian melihat ada orang bingung lain selagi Romdoni ?

Seorang jiwa pemilih, pemerhati, menghitung, mempertimbangkan, itu aku. Implikasinya, tentu dengan keputusan yang lamban, namun matang. Realitanya, belum tentu matang. Jadi aku berfikir untuk tabrak aja setiap pilihan dengan keputusan yang cepat.

Tapi aku bukan orang dengan tipe seperti itu. Tergesa-gesa, tanpa arah, tersesat, menyesal. Sangat di minimalisir untuk terjadinya penyesalan. Tapi justru inilah karakter muda, yang cepat tanpa perhitungan, selalu ingin mencoba, penasaran, lalu share pengalaman. Jika tidak demikian, kemerdekaan Indonesia akan lebih lama bukan ?

Aku sedang berbicara soal asmara. Sifat muda ini menjadi dominan teman-teman SMA. Saking perhitungan dan penuh pertimbangan, wanita (sebut x) di depan mata, yang jelas-jelas menyatakan rasa, lewat. Aku selalu berfikir untuk yang lebih jauh dari ini, wanita (sebut y) yang lebih perfect dari ini. Akhirnya, x dengan yang lain (dengan yang cepat tanpa perhitungan) dan y tak kunjung di dapat. Hari demi hari, x terlihat indah juga, percepatan proses menuju ke-perfect-an yang aku maksud. Meminjam qoute Ringgo Agus Rahman, "wanita terlihat lebih indah ketika bukan lagi milik kita".

Itu contoh kasus. Bahkan kegiatan itu aku mulai dari jenjang menengah pertama, sampai lanjut sekarang di jenjang kuliah. Nyambung atau tidak, mungkin nanti aku cerita tentang latar sebutan "tukang php" padaku.

Cerita panjangnya contoh kasus di bangku perkuliahan mungkin disajikan lain waktu. Sembari menunggu saat aku tidak berlaku bingung-dan-terlalu-pemilih. Dan sampai sekarang aku masih berlaku ketika-sang-pungguk-merindukan-sang-bulan. Padahal aku rasa banyak hal (dalam kasus ini wanita) yang harus diperhatikan.

0 komentar:

Posting Komentar