Dewasa ini banyak media cetak memberikan space khusus mahasiswa, entah itu berupa opini, liputan, sastra, sampai fotografi.Layaknya sebuah “paper” yang diberikan dosen, media cetak menentukan tema, format penulisan, dan tenggat waktu pengumpulan (deadline). Memasukkan tulisan ke media cetak terkenal susah, karena banyak mahasiswa yang berlomba-lomba agar karyanya dimuat di media cetak.
Hal
ini menjadi menarik ketika tulisan kita berhasil dimuat. Ada kebanggaan
tersendiri meloloskan tulisan setelah bersaing dengan ratusan orang lainnya.
Pun dengan iming-iming suvenir atau honor yang diberikan, menambah semangat
mahasiswa dalam menggarap tulisan di media cetak.
Namun
yang menarik bagi saya adalah ketika tulisan kita tidak dimuat oleh tim
redaksi. Dari situ terdapat koreksi secara tidak langsung, bahwa tulisan saya
masih harus diperbaiki dan, secara langsung memperlihatkan contoh tulisan yang
baik untuk dimuat. Tentunya lebih menarik jika tulisan kita dimuat!
Berbeda
dengan blog, media cetak menghadirkan tulisan yang lebih menjurus pada
jurnalistik. Dengan rajin memasukkan tulisan ke media cetak, kita akan terbiasa
dengan deadline yang diberikan, juga
mengetahui layak tidaknya tulisan kita dimuat, dan baik bagi perkembangan
kemampuan penulisan kita di masa depan.


0 komentar:
Posting Komentar