“Aku kurang apa coba sama
kamu ?”
“Ya kamu harusnya pikir dong, kenapa aku bisa sampai mengisi hati ini selain kamu.”
Tapi yang ini lain. Namanya Arum. Sekilas seperti nama seorang kembang desa, dan memang itu adanya. Orang tuanya sangat tidak percaya dengan pergaulan desa, maka ia eksodus bersama adik laki-lakinya ke kota. Rupanya orang tua Arum tidak memperhatikan pergaulan kota yang sarat ketidakpercayaan.
So does Arum. Meski rupa metro, tingkahnya sangat retro, sangat polos, sangat percaya pepatah tua. Begitu mudah kuraih ketimbang cewe metro yang senantiasa memproteksi giginya.
Hari itu dia terus berdiplomasi setelah ku akhiri hubungan kami. Obrolan dia terhenti sejenak diluar ruang kelas 3 Ipa 5, sementara aku masih terpatung di bibir pintu kelas.
“diam disitu”, ia berkata lalu melanjutkan ceracauannya. Tak kuat, aku pun duduk lama disitu sambil menimpali sekenanya. Aneh, konteks obrolannya dia menerima hubungan kita berakhir, namun ocehannya sama sekali tak ku mengerti.
Aku sampai harus memalingkan muka beberapa kali tatkala teman-teman sekelasku lalu lalang keluar masuk dengan sering, atau disengaja. Dari sekedar deheman kecil sampai sindiran halus. Mungkin mereka tak biasa melihat scene drama di televisi. Termutakhir, sindiran pedas yang tak dapat ku sangkal, tapi kebenarannya juga dapat diragukan.
“Jangan duduk depan pintu dong nanti seret jodoh”.
Plakk. Pipiku terasa ditampar sesuatu.
***
15 tahun kemudian.
Bekerja sebagai konsultan
bangunan memang gampang-gampang susah. Gampang mengerjakan analisis, tapi susah
mendapat proyek. Sepertinya Indonesia belum butuh ahli di suatu bidang. Aku
jadi teringat Habibie.
Kenyataan itu membuatku
melakukan pengorbanan sebagian waktu untuk berkeliling ke berbagai tempat di
Indonesia, menggapai pemborong proyek yang mengerti bahwa setiap bangunan butuh
analisis orang di bidangnya. Aku terima, ikhlas.
Tapi disitulah titik keuntungannya. Aku melanjutkan petualangan asmaraku, sebuah pencarian.
Ya, jiwa ini belum menemukan tambatan hati yang pas untuk bersama-sama menaiki pelaminan. Selepas Arum, praktis wanita-wanita yang menghampiri seperti hanya melewatiku sesaat, hampa. Dan cepat ku sadari ini hampir kepala tiga. Sampai minder sendiri aku jika acara reuni, melihat teman-yang-bukan-playboy-dulu sekarang sukses meminang momongan. Sesaat aku jadi teringat lagi Arum.
Mainanku sekarang praktis terbatas di alat komunikasi. Berjibaku dengan message dan beberapa media social. Aku rasa ini cukup mendekatkanku pada jodoh yang telah di atur. Iseng mengecek daftar online, kutemukan Arum di dalamnya! Yang ku kagetkan ternyata dia tidak lagi ndeso seperti dulu.
Lama ku berpikir, akhirnya coba menyapa. Ternyata responnya padaku masih sangat baik, terlepas dia berharap kembali atau tidak. Obrolan berlanjut meruncing, menanyakan status dan segala basa-basinya.
Responnya yang selanjutnya
cukup membuatku mati kutu, lemas, lunglai tak berdaya. Memiliki satu anak
perempuan yang belum genap setahun. Oh my,
harus tersalip dengan dia pula ?!
Feedback obrolan, akhirnya dia tahu aku masih melajang. Pertama tidak ada respon berarti sampai akhirnya dengan enteng dia mengetikkan kalimat tak terdefinisikan.
“Makanya jangan duduk di bibir pintu, nanti seret jodoh”.
Aku termenung sangat lama.
Sekilas kulirik sudut layar monitorku, tahun 2013. Tapi kurasa ini masih 2003.


0 komentar:
Posting Komentar