Zzz..

Tubuhku kembali menghempaskan bebannya pada alas 2 x 1.5 m. Sebuah tempat tidur yang tak aku tempati hampir lima bulan lamanya. Udaranya sejuk, menyiratkan wajah manja sang tempat tidur untuk tak beranjak dari situ. Ada beberapa perubahan, meski tak signifikan. Hawa yang sama, yang selalu identik dengan kata kepulangan.

Kemarin sore aku pulang. Waktu empat bulan dan enam belas hari terasa menyiksa rasa rindu untuk bekerja lebih keras dari biasanya. Aku selalu suka saat-saat kendaraan berarak meliuk melewati tikungan demi tikungan, memandang luas tumpukan terasering yang membelah bukit di sebelah kiri, sedang di kanan menjulang tebing yang dengan angkuh menggantang. Aku suka ketika kaca-kaca kendaraan memperlihatkan tempat-tempat yang kutandai sebagai alarm pengingat bahwa perjalanan semakin dekat -Kampung Naga, wilayah Ahmadiyah yang ramai pengawalan polisi ketika isu bergejolak, gerbang menuju Bukit Satria, kios Baso di tikungan terakhir- sebelum kendaraan benar-benar berhenti tanda aku harus meneruskan perjalanan dengan moda yang lebih kecil. Dari aspal, semen, jalan berbatu, berpasir, lumpur, berbelok ke paving block, sampai rumput taman, aku selalu suka ini, walaupun perjalanan bisa memuakkan.

Sambutan hangat -seperti biasa- menghampiri. Waktu selama itu seperti dua tahun! Melewatkan hal penting membuat iri. Selanjutnya, kembali ke keadaan biasa. Harusnya aku menikmati rutinitas di dalamnya, tapi terlalu biasa. Biasa, hingga merasa monoton. Benarkah karena itu? Kemana perginya antusiasme? Harus aku mengeluh, dengan lamanya waktu yang dinanti untuk hari ini? Mengapa?

0 komentar:

Posting Komentar