Siapkah?

Seperti petir menggelegar saja! Aku bangun di pagi hari ini dengan pembukaan SMS yang tidak menyenangkan. Tiba-tiba saja informasi tersebar luas tentang meninggalnya bapak dari temanku, teman yang periang, ceria, yang tidak mudah marah itu. Bukan hanya terkejut, namun juga bereaksi cepat atas kejadian yang akan datang. Dia, temanku, walaupun di bangku perkuliahan ini sudah tak dapat dikatakan muda lagi, tapi dengan beban yang akan ditanggungnya mulai hari ini, aku memberi sisi empati lebih. Mulai hari ini, dia resmi jadi pemimpin adik-adiknya yang masih mengecap bangku sekolah dasar & menengah. Mulai hari ini, ibunya resmi juga jadi bapaknya, peran ganda. Mulai hari ini, mimpinya harus segera terwujud.

Akhir-akhir ini semakin banyak saja kabar tidak mengenakkan hati seperti ini. Satu per satu temanku tak lagi berpendamping utuh. Aku bisa merasakan perihnya hati mereka, sesaknya dada karena impian-impian itu belum terwujud. Mungkin di hari wisuda nanti orang yang berlinang air mata lebih adalah orang dengan komposisi keluarga yang tak lagi utuh. Menyentuh relung hati terdalam, siapkah aku mendapatkan giliran itu?

Sejujurnya aku belum siap untuk kemungkinan itu. Aku buang jauh-jauh tentang pikiran itu, sepertinya hanya berpikir bahwa orangtuaku ada selamanya. Aku sadar akan ada saat dimana ketika aku tenggelam dalam kesibukanku, baik di perkuliahaan ataupun saat bekerja nanti, seseorang menelpon untuk segera pulang, tanpa memberi tahu duduk perkara, dengan terisak, hanya berkata "Mama.." atau "Bapak..", dan seketika sesak di dada bertambah. Akan ada saat dimana seseorang harus bangkit dari keterpurukan itu, untuk segera dewasa dalam berpikir, untuk menerima kenyataan tersebut. Akan ada saat dimana seorang anak setelah berpeluh rutinintas, ketika pulang ke rumah hanya menemui satu diantara kedua orangtuanya.

Aku tidak egois untuk mempertahankan orangtuaku tetap berada di dunia ini. Aku pun harus siap, meski nyatanya belum, jika sewaktu-waktu orangtuaku dipanggil menghadap untuk ditempatkan disisi-Nya. Hanya saja aku meminta kepadamu ya Rabb untuk kedua orangtuaku diberi umur panjang, sehat selalu, dan selalu dalam rezekinya. Setidaknya mereka berdua harus melihat bagaimana anaknya ini, yang sering memberi kesulitan bagi mereka, tumbuh menjadi orang yang sukses, dapat memberikan sesuatu untuk mereka, dapat menemani sampai hari wisuda nanti bahkan di hari aku menjejak pelaminan. Aku percaya kuasa-Mu, kebijaksaan-Mu, bukankah engkau Al-hakim?

2 komentar:

  1. Kereenn tapi kurang menyentuh dit, padahal di awal2 udah bagus tuh, harusnya paragraf ketiga/selanjutnya ada klimaks keterpurukan seseorang ketika dtinggal orangtua. pasti mewek tuh pembaca.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih balasannya rif *terharu*
      nah itu rif kelemahan aku, di awal tuh udah serius nyiapin kosakata & alur menarik, tapi kebawahnya sering hilang fokus, sampe bingung mau ngungkapin apalagi. trus aku kurang menjiwai setiap tulisan, biasanya kan ngambang kalo kaya gitu, banyak tuh tulisan aku yang ngambang, kurang gereget, dll. mungkin punya referensi tulisan 'menjiwai' dan 'gereget' itu?
      but btw thankyou komentarnya, asik

      Hapus