Wonosobo

Jum'at, 25 April 2014
Aku belajar banyak hal disitu. Sampai sempat mengobrol ngalor-ngidul dengan kawan-kawan dapat mendekatkan diri satu sama lain. Apalagi ketika dihadapkan pada persoalan yang sama, kita dapat saling memahami untuk mencari jalan keluar. Terkadang apa yang dipermasalahkan orang, untuk kita yang sering diterjang badai masalah, hanyalah soal sepele. Aku tanggapi dengan bercanda, karena masalah yang mereka ajukan sangat kekanak-kanakan, terkesan tidak perlu, dan hanya sensasi belaka.

Penampakan Telaga Warna dari batu pandang, recommended buat selfie :D

Dalam kunjunganku yang kedua di kota ini, satu hal tentang ganjalan yang jadi rasa penasaranku akan tempat ini, Sikunir. Ya, bukit Sikunir yang terkenal akan Golden Sunrise terbaik di Asia Tenggara ini urung dijajal pada kunjungan perdana pada Januari silam. Pasalnya, kabut dan badai yang terjadi di puncak musim hujan tersebut membuatku harus puas dengan hanya ketinggian yang diraih, 2350 mdpl.

Kali ini perjalanan hawa dingin ditemani dengan teman-teman satu bidang di kepengurusan (boleh di klasifikasikan begitu). Aku berangkat pada jumat siang selepas ibadah jumat beriringan 4 motor. Di Purbalingga, dari arah alun-alun sengaja berbelok ke arah kiri menuju jalan alternatif langsung tembus ke daerah Indonesia Power di Banjarnegara. Tidak sia-sia, perjalanan dapat lebih cepat, menghindari kendaraan berat, jalan mulus meskipun ekstrem naik-turun. Hampir jam 5 sore kita sudah transit di rumah Ina sang pribumi dan beristirahat sejenak. Pada saat itulah aku mengenali penganan khas Wonosobo, tempe kemul.

Perjalanan berlanjut selepas maghrib menuju tempat beristirahat untuk selanjutnya menginap. Tempat itu berada di daerah Tambi, sekitar 30 menit dari tempat Ina, merupakan daerah perkebunan teh yang super duper dingin (tapi aku masih menjunjung tinggi dinginnya my hometown, Dayeuhmanggung). Beruntung sang empunya rumah mengerti keadaan kita dengan suguhan yang beragam dan hangat tentunya. Aku beserta teman-teman tidur sejenak untuk seterusnya pada pukul 3 dinihari melanjutkan perjalanan menuju Sikunir. Serangan berupa hawa dingin menjalar seluruh tubuh, mencucuk tulang. Namun tekad bersama untuk mendapat sunrise tak tergoyahkan. Alhasil, Bright! Kita mencapai tujuan. Tak usah dinyana seberapa bagusnya sunrise Sikunir, karena ini bagian mata yang menikmati, lidahku kelu, ini pemandangan tak terdeskripsi.

Keseruan bertambah karena perjalananku ditemani pribumi saudaranya Ina yang pandai bernego. Alhasil, rencana yang semula ke satu tempat wisata, jadi merambah banyak wisata alam di Wonosobo dengan ongkos minimal. Petualangan dimulai saat hendak memasuki desa Sikunir. Warga sana biasa menagih pungutan masuk Sikunir yang saat itu 5ribu per orang. Terlepas dari legal tidaknya pungutan tersebut, kita merasa terbebani, apalagi dalam kunjungan perdana ke tempat ini tidak ada pungutan semacam itu. Akhirnya kakak Ina bernego dan berhitung kita membayar setengahnya disana. Keseruan lain saat menuju batu pandang menuju view Telaga Warna. Disana tertagih 3ribu per orang (kembali, terlepas dari legal tidaknya tagihan tersebut). Dengan nego kuat dan lobi-lobi tingkat tinggi akhirnya hanya bayar 2ribu, meskipun sebenarnya berberat hati. Lalu saat masuk kompleks candi di Dieng, kita masuk lewat jalan yang biasa dilewati petani untuk bebas tiket masuk dan parkir, dan hemat 5-7ribu. Tentu, petualangan ditemani pribumi menjanjikan kelengkapan info tentang suatu tempat sampai menyoal hemat konsumsi & penginapan.

Sensasi lain ditawarkan sang pribumi. Ketika lelah menyerang sehabis mencoba banyak wisata alam disana, pulangnya kami disuguhkan durian-fresh-from-the-field kebun buah Ina. Tanpa banyak ba-bi-bu buah berduri tersebut dibongkar. Semacam kenikmatan duniawi. Pulangnya, aku tertidur pulas dengan keyakinan akan mencium bau edelweis keesokan harinya.

1 komentar: