Pekalongan

World's City of Batik

Jika ada satu kota yang tidak direkomendasikan untuk menetap, aku masukkan nama Pekalongan dalam list. Begitu masuk wilayah Pekalongan kabupaten, satu kata spontan: Panas! Kota ini termasuk yang dilewati jalur pantura dan daerahnya dekat dengan pantai, mungkin itu yang menyebabkan panasnya Pekalongan. Tapi entah kenapa berkunjung ke kota ini ada hal yang istimewa.

Aku mengawali perjalanan dari Purwokerto bersama teman satu prodi di kampus. Masuk Purbalingga lewat jalur industri terus melewati wisata Owabong, terus ke arah Pemalang. Semula memang perjalanan lancar, sampai melewati perbatasan Pemalang perjalanan sedikit terkendala jalan rusak. Harus bersabar untuk melewati wilayah Pemalang ini karena memakan waktu lebih dari satu jam perjalanan. Sempat transit sejenak di alun-alun Pemalang, perjalanan berlanjut untuk mengejar Kota Pekalongan lebih awal untuk menghindari hawa lebih panas. Aku sampai sebelum tengah hari untuk menginap di rumah teman di daerah Medono.

Lebih dari itu, disamping sambutan 'hangat'nya, Pekalongan menawarkan pesona. Bukan alam memang, tapi suasana yang disajikan sungguh berkesan. Aku tidak melewatkan untuk mencoba nasi kucingnya pekalongan, yakni megono. Sajian nasi bertabur tempe orek dan nangka kering, ditambah tempe goreng lebih enak jika dimakan selagi panas. Tidak terlewat juga untuk mengabadikan momen di tempat-tempat ikonik kota ini, seperti di Taman Batik dan tulisan Pekalongan di jalur menuju Batang. Sempat juga mengunjungi pantai pekalongan meski sebenarnya daya tarik pantai berada di selatan Jawa. Terakhir, kita berkunjung ke Museum Batik untuk sekedar berfoto awalnya, namun ternyata dilarang dan malah mendapat pengalaman istimewa, yakni membatik. Sebelum pulang, kita menyempatkan berbelanja di pusat grosir yang katanya bisa nego lebih di pagi hari.
Workshop Batik di Museum Batik


0 komentar:

Posting Komentar