Mama

Aku tak kuat lagi. Sungguh mengherankan jiwaku rapuh dihadapannya. Latarku kini berada di rumah nenek. Setelah tak terima dengan tudingan saudara yang dialamatkan padaku, aku segera berlari menuju kamarnya, segera bersimpuh dan meluapkan semuanya disitu. Kudapati dirinya tengah rileks dan penuh penantian, seakan tahu anaknya akan menghambur padanya.

Sorot matanya penuh pengawasan, namun tetap teduh dan tenang. Posturnya tak sekuat ia muda, namun anaknya yang mana sanggup membantah, ditengah menuanya usia. Ia tidak tinggi besar, namun perlindungannya riuh rendah menaungi segenap yang dicintainya. Tangannya kasar, namun belaiannya lembut, sampai ku ingat setiap sentuhan jarangnya, yang akan semakin jarang kudapat sekarang.

Aku tak kuat lagi. Segera ku luapkan segala emosi yang selama ini terpendam. Jarang sekali air mata ini menghambur keluar, apalagi di hadapannya. Dengan tak mengeluarkan kesedihan saja aku sudah membantu meringankan bebannya, cukup aku sendiri yang menikmati itu. Namun ini hal lain. Puncak dari semua permasalahan aku tidak dapat lagi menampung. Sudah terlalu membukit, sampai aku lupa kapan terakhir kali aku bercengkrama dengannya mengadu permasalahanku sendiri. Tapi karena aku harus segera kuat di matanya, segala curhatan akhirnya terpendam. Sebab malah beberapa kali justru mama yang mengadu tentang kondisinya, dengan mata berkaca-kaca, namun tak jarang sampai aku harus melihatnya menangis.

Mungkin mama paham kali ini. Maafkan aku ma, akhirnya air mata ini tumpah dihadapanmu, ketika aku bersimpuh tak tahu harus kemana lagi berlabuh. Nampak mama tak terganggu atas sikapku ini, justru dirinya kembali membelai rambutku ini, untuk beberapa kali yang dapat dihitung selama aku ingat, maka air mataku semakin deras keluar. Aku bercerita banyak hal yang menjadi bebanku saat ini. Aku bercerita tentang amanat orangtua yang akhirnya belum dapat terlaksana. Aku bercerita akan segala kemajuan yang belum terlihat untuk aku berikan kepada kedua orangtua. Aku capek, ma, tapi bebanku saat ini merupakan tanggungjawabku. Maka tak mungkin aku lepaskan semuanya sekaligus.

Aku bercerita, mengadu sepuas-puasnya, sampai terbangun pada sebuah kasur. Dekapan mama berganti bantal. Latar berganti kamar kosan. Bayangan mama tersamar namun masih dapat kulihat. Aku pun tersadar sekelebat cuplikan tadi hanyalah mimpi belaka. Namun air mata yang menghambur sedari tadi nyata. Ini berkah, ucapku. Sekaligus khawatir akan kondisi mama sekarang.

0 komentar:

Posting Komentar