Angan

Aku selalu berangan-angan akan kemajuanku pada dunia tulis menulis. Dalam persepsi idealisku, metode yang terjadi adalah sama dengan yang kubayangkan -dan sudah menjadi selentingan awam- di ruang redaksi media mainstream selayaknya. Sosok pemimpin redaksi dan redaktur yang menuntut kesempurnaan tulisan dari para reporternya -mencari setiap detail kejelasan bahkan menjelang deadline memburu. Sosok Litbang yang memenuhi lemarinya dengan data dan analisis, arsip yang tertata secara time series, disamping data dan pendekatan terhadap reporternya sendiri. Sosok "tokoh senior" yang memberikan figuritas pada anak baru sekalipun. Terbayang juga akan kinerja rekan-rekan setim, rekan seperjuangan, yang aktif berburu isu, mengaktifkan radar kepo (istilah SBM) setiap saat, jeli dalam analisis sosial, gesit dalam mengungkap fakta, dan sederet angan indahku yang lain. Segala tekanan, tuntutan, pengembangan, dan segala hal yang (nantinya) bermuara pada kemajuan individu, aku rela lakoni, meski angan yang terbentuk itu berakhir di ufuk nirwana sana. Jauh..

Tapi kau lupa satu hal, Dit. Dunia yang kau tekuni sekarang berisi manusia. Manusia! Pantaslah kajian tentang manusia ini selalu mengalami perbaruan di tiap masa, seiring dinamika yang berkembang. Cukuplah paham bahwa burung yang di bidik saat ini berbeda karakter dengan yang yang ku pelajari textbook dan banyak bumbu angan. Cukuplah dipahami ini diluar kontrolku sebagai anak yang baru mengendus roda organisasi, sampai pada titik frustasi paling dasar. Sebetulnya tidak begitu penting, sampai generasiku membuatnya genting.

Satu hal yang dapat mengurangi penghakiman -meminjam istilah orang yang sering kebingungan- aku bingung harus bersikap bagaimana..

0 komentar:

Posting Komentar