Cerna

Bukan gangguan percernaan.

Entah hanya perasaan atau memang benar, rasanya semakin kesini, semakin lama, otakku semakin sulit mencerna input. Semua input, termasuk konten bacaan, sharing ide dan gagasan, atau hanya sekedar perintah. Tapi seharusnya tidak terlalu dipedulikan, karena faktanya aku tidak berpikir dengan perasaan.

Mendengar kabar salah satu kawan yang mengalami gangguan saat berpikir (get well soon, dear!) aku coba menelusuri bagaimana perkembanganku selama ini berlangsung. Perkembangan pemikiran tidak mempunyai patokan saklek, tapi bisa kita rasakan progressnya.

Dalam hal akademik pikirku semakin kacau. Analisisnya, IP kemarin jeblok. Meski dalam perjalanannya fluktuatif, aku tidak yakin IP semester depan akan naik signifikan. Seiyanya mengemban amanah seorang asisten praktikum, justru seiring berjalannya waktu semakin tidak mengerti materi ini-itu (simpel, ada yang bertanya dan lama menjawab atau tak terjawab sama sekali. tak jarang, pertanyaan ini dibekal untuk dipelajari di kosan). Asal tahu saja, mayoritas awam selalu mengasosiasikan asisten praktikum ini dengan mahasiswa ber-IP tinggi -Meskipun faktor koneksi dosen berpengaruh kuat- -Tapi saat seleksiku murni screening kok- -Boleh dibuktikan hehe-

Saat kuliah seringkali tidak paham dengan penjelasan dosen, sering miss, tidak konek dengan penjelasan dosen. Bertanya pun akhirnya hanya manggut-manggut kurang paham, terbatas waktu juga. Saat ujian otak ngehang. Sampai UTS kemarin aku merasakan apa yang Heru rasakan di mata kuliah Matematika, bingung dan gatau-kudu-ngisi-apa di bilah LJK. Seumur hidup aku ujian baru kali ini merasakan susutnya mengisi satupun soal. Sambil mengais sisa memori materi masa lalu aku susah payah mengisi. Rasanya hina banget dan merasa di titik terendah hidup.

Baca. Dulu semangat super baca apa saja. Buku bergambar, buku misteri ala sherlock holmes, Buku bacaan kakak tentang politik, buku komik dari conan sampe miiko, buku ensiklopedi, buku atlas. Baca koran juga, koran bola beli tiap minggu, koran bawa bapak dari kantor, koran lampu hijau, koran bekas bungkus gorengan, sampai koran alas baju di lemari mama yang bau kamper. Saking lebaynya sampai majalah agrica dapet pertama jadi cabe itu dibaca kata per kata terus khatam berapa kali. Sekarang baca buku leletnya minta ampun. Tamat satu buku saja bisa berhari-hari. Padahal dulu rampung novel negeri 5 menara saja sekitar 7 jam sambil ngabuburit.

Diskusi pun demikian. Kamu sekarang tidak akan menemukan diskusi denganku sealot dulu. Dengan idealisme yang dibentuk, ditunjang dengan referensi mumpuni, aku bisa berbicara. Entah kenapa sekarang banyak toleransi dalam hidupku, tidak lagi berapi-api bermain pada aras idealita. Termasuk rapat yang tak lagi menarik hati, dan kualitas teknis di lapangan yang tak lagi berpatokan hasil rumusan rapat.

Dari penjabaran diatas, jadi benar aku semakin sulit mencerna?


0 komentar:

Posting Komentar