Orang itu mondar-mandir sejak satu jam yang lalu. Entah apa yang dia cari. dengan senter sorot khas pendaki, dia menyorotkan sinar lampu ke arah manapun secara acak. Awalnya aku biasa, sampai dia mulai merambah wilayah kerjaku.
Lama dia terpatung depan sekretariat tetangganya, coba berpikir dimana yang ia cari, pikirku. Akhirnya berselang lama kemudian dia menyorotkan senternya pada bilah atap sekreku. Sebenarnya aku masih dalam kondisi biasa. Sebagai simpati -karena aku sedang bekerja- -membantu pun kecil kemungkinan- maka aku coba bertanya.
"nyari apa mas?"
"buah yang mateng, siapa tau ada."
Maka selesai sudah. Aku kembali bekerja.
Dalam rentang waktu yang lama, lepas dari perhatianku juga, dia kembali menyorotkan sinar lampunya ke arah berbeda. Kali ini dia menyasar bagian bawah, termasuk kolong kursi dan meja tempat aku bekerja. Aku mulai curiga, sebenarnya apa yang dia cari?
Dari sana aku mulai terganggu, hilang fokus. Benak berkecamuk, "nyari Matoa (red: buah) malem-malem?" "gak biasanya" "seserius itu mencari sesuatu, malam hari" "pertama sorot atas (banyak pohon) kemudian nyasar bawah dan kolong-kolong, nyari apa?" "kalo ga salah kan di sekrenya pelihara ular".
Dengan akumulasi-akumulasi diatas, pikiranku menyimpulkan, dan aku segera terloncat dari kursi langsung menuju dalam sekre. Butuh waktu lama mengumpulkan keberanian kembali bekerja diluar malam itu.


bahasanya ngalir banget!
BalasHapusjadi gimana mba? bagus apa engga? haha. well, thankyou.
Hapus