Looking Back

Tlah lama, usang. Aku tak dapat menggambar rupamu dalam sebulan terakhir ini. Perjalanan yang keras, berliku, naik-turun, harus pandai mengatur gear agar tahu kapan butuh kecepatan dan kapan butuh tenaga. Yang pasti, terjalnya hidup kembali ku lalui. Sekali lagi, aku mendapat upgrade diri dan hikmah dari semua perjalanan ini.


Perjalanan mengajarkan, seberapa jauh kau melangkah, kau harus tau apa yang jadi tujuanmu. Bias tujuan, maka jalanmu berada pada pusaran kebingungan dan penuh ketidakpuasan. Aku sedang belajar bagaimana menetapkan pilihan pada sebuah arah perjalanan. Disadari memang aku berjalan pada satu arah, berjalan beriringan. Namun apa daya jika banyak tujuan kau capai maka hanya akan memperlambat laju larimu, banyak persinggahan dalam menuju garis finish. Akhirnya, tertinggal. Teman-teman lain sudah mencapai finish dengan pencapaian trofi sementara aku baru sampai ketika semua tempat persinggahan ku kunjungi.

Aku sadar sekarang sedang melakukan lari estafet, bukan sprint apalagi marathon. Pencapaianku tidak akan ada apa-apanya jika ternyata lariku dengan membawa banyak barang diatas pundak, sementara ada partner lain yang menungguku menyerahkan tongkat estafet untuk diteruskan berlari, menyerahkan tongkat, berlari lagi, menyerahkan tongkat lagi, berlari lagi, tak henti. Maka bebanku seharusnya menjadi bebannya mereka juga. Tapi karena tak mau tim lari estafet kita kalah dengan tim lain, maka dengan legowo aku harus melepaskan itu, satu per satu.

Tapi temanku penerus tongkat estafet tersebut juga membawa barang yang tak kalah besarnya juga. Maka aku biarkan, tentu setelah mendapat peringatan. Biar dia sendiri yang memutuskan nasibnya, biar dia berpikir. Keputusannya bisa mempengaruhi hasil akhir lomba tim kita ada di peringkat berapa. Biar dia tahu bagaimana beratnya beban tersebut untuk diajak berlari. Perjalanan akan beri nilai-nilai kehidupan padanya.

0 komentar:

Posting Komentar