Pulanglah

Apa yang sedang kamu lakukan?
Jika urusannya tidak begitu penting, menepilah dulu. Mungkin kamu lelah.
Karena aku pun tidak melihat kemajuan yang selama ini kamu janjikan, dan terus menerus janji.

Pulanglah, jelaskan kondisi sebenarnya agar tidak salah persepsi.
Pulanglah, keluarga selalu menunggu kepastian.
Kasihan kan Mama cemas, Bapak menggerutu, Teteh heran, Aa geram.
Kasihan juga orang yang kamu kambinghitamkan itu, kalau memang kronologisnya bukan seperti itu, jadi bahan umpatan orang rumah.
Meski aku sendiri yakin itu tidak murni salah dia, tapi kamu pun punya andil. Tapi aku tidak berani bertanya.

Kasihan kamu yang sehari-hari tidak memperlihatkan sisi produktif -online, jogging, tidur, makan, keluar bareng teman-
Kasihan aku, yang sering mendapat pertanyaan tentang kamu (setidaknya satu orang sehari) yang bingung harus menjawab apa dan akhirnya ngeles.
Selalu hidup dalam bayang-bayang kamu, aku tidak mau.

Apa kamu gak kangen suasana rumah, membantu Mama mengurus rumah, menghabiskan jambu, bantu meringankan pengeluaran.
Apa karena hal itu kamu enggan pulang? cemen sekali.

Pulanglah, bantu aku yang introvert ini ruang pribadi dalam sunyi
Pulanglah, karena tidak ada salahnya untuk kembali.

0 komentar:

Posting Komentar