Aku pernah mengenal satu nama.
Sesuai kesepakatan (meski belum menemui kata sepakat), tulisan ini bukan balasan surat yang kamu kirim tempo hari. Seringnya tulisanmu muncul di beranda blog membuat aku tergelitik mengirimkan tulisan ini. Tulisan kamu akhir-akhir ini lagi mengerucut pada satu tema, ya? Bahkan mungkin, satu nama, kan?
Kita tak dekat, pun tak jauh. Kita tidak cukup mengenal satu sama lain, tapi aku cukup banyak tahu kamu lewat tulisan di blog dan seseorang yang sama sama kita kenal. Di tangga berkelok menuju Hall Student Center UNY itu kita bersua.
Mengenal pribadi lewat tulisan memang asyik. Tapi, sesederhana itukah mengenal kamu? Mungkin sesederhana menghirup kopi saat senja. Tapi bisa rumit juga, kaya layoutan majalah Provoke! kan haha.
Dari kamu, aku belajar bahwa secangkir kopi itu teman berpikir, curahan hati, penuh rasa, penuh makna. Kopi yang aku kenal saat ini terbatas pada tegukan-tegukan kecil teman begadang, hanya itu. Juga belajar memahami wanita yang (terimakasihnya) kamu transkripsi menjadi barisan kata yang mudah dipahami.
Aku sepakat, jangan menyengajakan pertemuan. Biarkan mengalir penuh kejutan. Mungkin akan ada kunjur-kunjur lain yang mempertemukan. Bye!


hwaaaa! ❤
BalasHapusmakasih adit. tulisanmu keren!
aku jadi merasa tersanjung! ^.^
hwehehe makasih juga. tersanjung tuh artinya apa?
Hapus