Ideal

Dulu, aku tak suka orang idealis.
(idealis/ide·a·lis/ /idéalis/ n 1 orang yg bercita-cita tinggi; 2 pengikut aliran idealisme)

Orang idealis suka memaksakan kehendak, sesuai dengan jalan pikir dirinya. Terlanjur hanyut dalam pemikiran utopis. Hingga lupa untuk menggiring opini basis massa agar ikut sesuai kehendaknya.

Menjadi ideal (menurutku) saat itu, sangatlah kaku. Terbatas pada sekat-sekat batasan yang diciptakan sendiri. Menjadi ideal tidak menjadikan dunia lebih baik. Toh dirinya pun berlalu jika realita tak sesuai apa yang ia sebut ranah idealita.

Dunia (menurutku) saat itu, masih butuh orang pragmatis. Orang yang masih berlandaskan realita, yang pikirannya membumi. Percuma kataku, memaksakan pemikiran ideal di tengah massa yang praktis, parokial.

Tapi justru dari obrolan-obrolan bersama kawan, coba menyimpulkan, aku cenderung idealis ya..

Mengenai gagasan, mengenai cita-cita yang belum terlaksana, mengenai suatu tatanan sosial yang mapan, mengenai suatu format yang seharusnya berjalan sesuai koridor. Aku sadar semua butuh penyikapan, aja mung ngomong tok. Menginginkan kondisi ideal tanpa bergerak membenahi? Bisa kritik tanpa memberikan solusi? It's nonsense.

Untuk mewujudkannya, butuh bergerak. Maka, coba garap satu-satu sambil ajak massa. Akan kucoba.

0 komentar:

Posting Komentar