Nol tiga nol sembilan. Shubuh beberapa saat lagi, dan aku masih terjaga.
Ada apa dunia. Mata tak kunjung mengatupkan kelopaknya. Mulut berhenti menguap. Badan tak lagi meregangkan bobotnya ke segala penjuru. Kepala tak nyaman saat beradu bantal.
Biasanya tak begini. Teman-teman mengenal baik bagaimana bersahabatnya aku dengan alas tidur. Kata mereka, dimana Adit bersandar, seketika Adit pulas. Hanya malam ini saja seperti ini. Bingung harus senang atau sedih.
Ya, bingung. Banyak kawan memanfaatkan waktu sepertiga malam untuk membuka catatan, menunaikan ibadah malam, terbebas dari terik dan bisingnya siang. Maka aku harus bersyukur atas "kemewahan" ini. Namun sedih juga mengetahui banyak orang mendamba kepulasan sampai memakai stimulus obat.
Sementara itu, Mafaza telah mengumandangkan adzan awalnya.
Ada apa dunia. Mata tak kunjung mengatupkan kelopaknya. Mulut berhenti menguap. Badan tak lagi meregangkan bobotnya ke segala penjuru. Kepala tak nyaman saat beradu bantal.
Biasanya tak begini. Teman-teman mengenal baik bagaimana bersahabatnya aku dengan alas tidur. Kata mereka, dimana Adit bersandar, seketika Adit pulas. Hanya malam ini saja seperti ini. Bingung harus senang atau sedih.
Ya, bingung. Banyak kawan memanfaatkan waktu sepertiga malam untuk membuka catatan, menunaikan ibadah malam, terbebas dari terik dan bisingnya siang. Maka aku harus bersyukur atas "kemewahan" ini. Namun sedih juga mengetahui banyak orang mendamba kepulasan sampai memakai stimulus obat.
Sementara itu, Mafaza telah mengumandangkan adzan awalnya.


0 komentar:
Posting Komentar