Marah

       Marah adalah ekspresi paling pas, jalan pintas, untuk meluapkan emosi seseorang. Sudah barang tentu marah adalah cara gampang, walaupun banyak kasus yang tidak bisa diselesaikan dengan marah. Menjadi pas ketika adu argumen dengan posisi saling strengh tengah berlangsung, maka kedua belah pihak tak henti melancarkan serangannya. Ah, betapa marah sangat cocok bagi kultur di lingkungan sekitarku.

       Orang marah menjadi tak terkendali, lepas kontrol. sebenarnya ada klarifikasi, namun karena cenderung naik pitam jadinya lepas kawalan. orang marah langsung menjadi maunya sendiri, baik itu secara diam-diam mutung maupun terang-terangan menolak. orang marah tidak berpikir kepentingan umum dan kemaslahatan umat, karena mereka berpikir sebagai self-centered diposisi tersebut -bahwa kepentinganya lebih urgent untuk diselesaikan-. ketidaksukaanku pada orang marah adalah ketika kepentingan umum lebih mendesak, mereka malah lepas tangan, tak bertanggung jawab, ingin dituruti kemauannya, egois.

       Belakangan aku protes dengan ekspresi marah ini. betapa orang dengan mudahnya meluapkan emosi. Dengan marah, orang bisa mendapat kepuasan lebih ketimbang menyelesaikan dengan nalar dan kepala dingin. Dengan marah kita mendapati subjek yang kalah (atau tidak menyukai konflik) akan terdiam lalu mencerna baik-baik kemarahan itu -meskipun sebenarnya tidak mesti-. Orang yang marah cenderung egois, inginnya mendikte dengan hamburan argumen yang tidak debatable & cenderung gampang di counter. Namun kemudian kita, sebagai pihak yang menghindari konflik, agak menghindari amukan orang marah dengan alasan diatas. Meskipun diladeni dengan pikiran jernih dan logika sederhana, orang marah sudah kalap, tidak berpikir baiknya kemudian, tapi sibuk menyalahkan.

       Kembali ke egoisme, orang marah cenderung tidak memperhatikan lawannya. Dia bebas sesuka hati marah pada partnernya, sementara si partner tidak merasa untuk marah meskipun pihak yang sedang marah-marah melakukan kesalahan di kemudian hari. Harusnya menjadi catatan bagi si marah tersebut agar dikemudian hari agar berpikir lebih tenang dan jernih. Ada banyak cara untuk mengekspresikan emosi. Hindari kemarahan, mutung, baeud, diam, ataupun ngabenguk di sudut kamar sambil menatap nanar langit-langit kamar. Semua bisa dikomunikasikan, termasuk rasa kesal dan amarah, tentunya dengan tidak marah.

0 komentar:

Posting Komentar